TINJAUAN FILOSOFI TENTANG METODE PENDIDIKAN

1. Progresivisme
Progresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak, berpusat pada guru atau bahan pelajaran.
Metode pendidikan
a) Metode Belajar Aktif
Metode pendidikan progresif lebih berupa penyediaan lingkungan dan fasilitas yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara bebas pada setiap anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya.
b) Metode Memonitor Kegiatan Belajar
Mengikuti proses kegiatan-kegiatan anak belajar sendiri, sambil memberikan bantuan-bantuan tertentu apabila diperlukan yang sifatnya memperlancar proses berlangsungnya kegiatan-kegiatan belajar tersebut. Bantuan-bantuan yang diberikan sebagai campur tangan dari luar diusahakan sedikit mungkin.
c) Metode Penelitian Ilmiah
Pendidikan progesif digunakannya metode penelitian ilmiah tertuju pada penyusunan konsep, sedangkan metode pemecahan masalah lebih tertuju pada pemecahan masalah-masalah kritis.
d) Pemerintahan Belajar
Pendidikan progesif merupakan belajar dalam kehidupan sekolah dalam rangka demokrasi dalam kehidupan sekolah, sehingga pelajar diberikan kesempatan untuk turut serta dalam penyelenggaraan kehidupan di sekolah.

e) Kerja Sama Sekolah Dengan Keluarga
Pendidikan progesif mengupayakan adanya kerja sama antara sekolah dengan keluarga dalam rangka menciptakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi anak untuk dapat terekspresikan secara alamiah semua minat dan kegiatan yang diperlukan anak. Upaya ini mendorong didirikannya sebuah organisasi guru dan orang tua murid, yang dipelopori oleh F.W. Paker di Chicago. Organisasi ini berfungsi sebagi forum komunikasi dan kerja sama dalam upaya pembaharuan pendidikan di sekolah.
f) Sekolah Sebagai Laboratorium Pembaharuan Pendidikan
Pendidikan progesif menganjurka pula peranan guru sekolah. Sekolah tidak hanya tempat belajar, tetapi berperan pula sebagai laboratorium pengembangan gagasan guru pendidikan.

2. Aliran Rekonstruksionalisme
Filsafat pendidikan Rekonstruksionalisme merupakan variasi dari progesifisme yang menginginkan kondisi manusia pada umumnya harus diperbaiki.
Metode pendidikan Rekonstruksionalisme
Analisi kritis terhadap kerusakan-kerusakan masyarakat dan kebutuhan-kebutuhan programatik untuk kebaikan. Dengan demikian menggunakan metode pemecahan masalah, analisis kebutuhan, dan penyusunan program aksi masyarakat.

3. Aliran Esensialisme
Esensialisme adalah aliran pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia.
Metode pendidikan Esensialisme.
1) Pendidikan berpusat pada guru (teacher centered).
2) Pada umumnya diyakini bahwa pelajar tidak betul-betul menegetahui apa yang diinginkan, dan mereka harus dipaksa belajar. Oleh karena itu pedagogi yang bersifat lemah-lembut harus dijahui, dan memusatkan diri pada penggunaan metode-metode latihan tradisional yang tepat.
3) Metode utama adalah latihan mental, misalnya: melalui diskusi, melalui pemberian tugas dan penguasaan pengetahuan, misalnya: melalui penyampaiaan informasi dan membaca.

4. Aliran Perenialisme
Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses pengembalikan keadaan seseorang. Perenialisme merupakan hasil pemikiran yang memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk bersikap tegas dan lurus.
Fisafat pendidikan perenialisme tidak jauh berbeda dengan filsafat pendidikan esensialisme, kalu kebenaran yang esensial pada esensialis ada pada wahyu Tuhan.
Metode pendidikan Perenialisme
Latihan mental dalam bentuk diskusi, analisis buku-buku yang tergolong karya-karya besar, buku-buku besar tentang peradaban barat.

5. Aliran Eksistensialis
Filsafat pendidikan Eksistensialis berpendapat bahwa kenyataan atau kebenaran adalah eksistensi atau adanya individu manusia itu sendiri. Adanya manusia di dunia ini tidak punya tujuan dan kehidupan menjadi terserap karena ada manusia. Manusia adalah bebas. Akan menjadi apa orang itu ditentukan oleh keputusan dan komitmennya sendiri (callahan, 1983).
Metode pendidikan Eksistensialis
Seseorang akan menjadi lebih tahu tentang sesuatu melalui pengalaman. Hal ini bergantung kepada tingkat kesadaran masing-masing. Begitu pula nilai-nilai ditentukan oleh setiap individu. Orang tidak perlu menyesuaikan diri dengan nilai-nilai sosial, agar eksistensi dirinya tidak hilang.

0 comments:

Post a Comment